Rahasia yang Terbongkar
Malam itu, rumah besar mereka kembali sunyi. Dwi berbaring di ranjang megah berlapis satin, namun matanya menatap kosong ke langit-langit. Pertemuan siang tadi dengan Raka masih menghantui pikirannya. Kata-kata pria itu seakan terpatri di telinganya.
Pintu kamar terbuka. Gofur masuk, langkahnya mantap. Ia melepaskan jas, menggantungkan di lemari, lalu duduk di tepi ranjang.
Gofur: (tenang, tapi matanya tajam) โWi, aku mau tanya.โ
Dwi: (menoleh cepat, gugup) โTanya apa, Mas?โ
Gofur: โHari iniโฆ kamu benar-benar hanya bertemu Ratna?โ
Dwi: (menelan ludah, tersenyum tipis) โIya, Mas. Hanya Ratna.โ
Gofur: (menatapnya lekat) โKamu yakin?โ
Dwi: (berusaha tegar) โAku tidak pernah bohong padamu.โ
Hening. Gofur menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di sorot matanya yang membuat dada Dwi sesak, seperti sedang dipelototi sampai ke dasar hati.
Gofur: โAku dengar kabar lain.โ
Dwi: (tersentak) โKabarโฆ apa maksud Mas?โ
Gofur: (suara rendah, penuh tekanan) โKebetulan ada kolega yang juga makan siang di restoran itu. Mereka bilangโฆ kamu terlihat bersama seorang pria.โ
Jantung Dwi berdegup kencang. Ia merasakan tubuhnya dingin.
Dwi: (cepat-cepat) โItu salah paham, Mas. Akuโ
Gofur: (memotong, nada tajam) โSiapa dia?โ
Sunyi. Dwi menunduk, bibirnya bergetar. Ia tak bisa mengeluarkan kata.
Gofur: (mengeras, menahan amarah) โAku tanya sekali lagi, siapa pria itu?โ
Dwi: (suara lirih, nyaris berbisik) โTeman lamaโฆ hanya kebetulan bertemu.โ
Gofur: (menyipitkan mata, suaranya dingin) โNamanya?โ
Dwi terdiam. Hatinya gemetar. Nama itu terkurung di tenggorokan, tak berani keluar.
Dwi: โMas, percayalahโฆ itu hanya kebetulan. Tidak ada yang perlu Mas khawatirkan.โ
Gofur: (tertawa kecil, sarkastis) โKebetulan? Dunia ini terlalu luas untuk kebetulan yang seperti itu, Wi.โ
Keesokan paginya, Gofur berangkat lebih awal. Dwi mengira ia pergi kerja seperti biasa. Namun kenyataannya, Gofur tidak langsung ke kantor. Ia kembali ke restoran tempat Dwi makan siang kemarin.
Ia bertanya pada salah satu pelayan dengan nada dingin namun sopan. Foto Dwi ia tunjukkan, lalu bertanya siapa yang bersamanya kemarin. Pelayan, tanpa curiga, menjawab jujur: seorang pria bernama Raka, pengusaha yang cukup dikenal.
Nama itu menancap di kepala Gofur.
Malam harinya, Gofur pulang dengan wajah lebih dingin dari biasanya. Dwi menyambutnya dengan hati-hati.
Dwi: โMasโฆ sudah makan?โ
Gofur: (singkat) โSudah.โ
Ia berjalan ke ruang kerja tanpa banyak bicara. Dwi mengikutinya, merasa ada yang tak beres.
Dwi: (pelan) โMas, ada apa? Kenapa sikapmu berbeda?โ
Gofur: (membalikkan badan, menatap tajam) โAku sudah tahu namanya.โ
Dwi: (terkejut, tubuh kaku) โNaโฆ nama siapa?โ
Gofur: โPria yang kemarin bersamamu. Raka, bukan?โ
Dwi menutup mulut dengan tangan. Wajahnya pucat.
Dwi: (berusaha tenang) โMasโฆ aku bisa jelaskan.โ
Gofur: (mendekat, suaranya rendah tapi menusuk) โJelaskan? Apa yang harus dijelaskan dari seorang istri yang diam-diam bertemu pria lain?โ
Dwi: (meneteskan air mata) โItu kebetulan, Mas. Aku tidak merencanakannya. Dia hanya muncul tiba-tiba.โ
Gofur: (menahan emosi, mengepalkan tangan) โKamu pikir aku akan percaya begitu saja?โ
Hening. Dwi menangis tertahan, sementara Gofur menatapnya penuh kecurigaan.
Dwi: โMas, aku tidak ada apa-apa dengan dia. Tolong percayaโฆโ
Gofur: (dingin) โKenapa kamu tidak langsung cerita? Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa harus disembunyikan?โ
Dwi: (terisak) โAku takut, Mas. Takut kamu salah paham. Takut kamu marah seperti sekarang.โ
Gofur menunduk, menarik napas panjang. Tapi sorot matanya tak melunak sedikit pun.
Gofur: โKamu masih mencintainya, ya?โ
Dwi: (terkejut, suara tercekat) โTidakโฆ aku tidakโฆโ
Gofur: (memotong, suara keras) โJawab yang jujur, Dwi! Kamu masih mencintai dia?โ
Air mata mengalir deras di pipi Dwi. Ia ingin berteriak ya, ingin jujur pada dirinya sendiri. Tapi bibirnya kelu.
Dwi: (lirih, nyaris tak terdengar) โAku sudah menikah denganmu, Mas. Itu saja yang penting.โ
Gofur: (menggeleng, tertawa getir) โJawaban yang tidak menjawab apa pun.โ
Beberapa hari setelah itu, Gofur semakin dingin. Ia tetap memenuhi kewajiban sebagai suamiโmenyediakan rumah, makanan, pakaian mewah, tapi hatinya menjauh. Dwi merasa terkurung di rumah megah itu, bagai burung di sangkar emas.
Suatu malam, saat Dwi baru selesai mandi, ia mendapati Gofur duduk di ruang kerja dengan laptop terbuka. Di layar, terpampang artikel tentang Raka, profil pengusaha muda sukses, foto-fotonya saat menghadiri acara bisnis.
Dwi: (suara gemetar) โMasโฆ apa yang kamu lakukan?โ
Gofur: (tanpa menoleh) โMencari tahu siapa orang yang membuat istriku gelisah.โ
Dwi: (mendekat, mencoba menahan tangannya) โTolong hentikan, Mas. Aku mohonโฆโ
Gofur: (membalikkan badan, menatap tajam) โSemakin kamu melarang, semakin aku yakin ada sesuatu di antara kalian.โ
Dwi terisak. Ia merasa semakin terpojok.
Dwi: โTidak ada apa-apaโฆ aku bersumpah.โ
Gofur: (mendekat, suaranya bergetar menahan amarah) โKalau benar tidak ada apa-apa, buktikan. Putus semua kontak dengan dia. Jangan pernah ketemu lagi.โ
Dwi: (menangis, terjebak) โMasโฆโ
Gofur: (dingin) โKalau tidak, aku sendiri yang akan memastikan dia tidak pernah dekat denganmu lagi.โ
Malam itu, Dwi menangis sendirian di kamar. Ia menatap wajahnya di cermin, wajah cantik dengan senyum palsu yang makin hancur. Di balik senyum itu, rahasia cintanya sudah nyaris terbongkar.
Dan untuk pertama kalinya, Dwi mulai merasa takut. Bukan hanya pada Gofurโฆ tapi pada dirinya sendiri. Karena hatinya ternyata masih berdetak untuk Raka.







